Home » Status INRASFF » Pelaksanaan Rasff Di Indonesia

PELAKSANAAN RASFF DI INDONESIA


Sepanjang tahun 2020, NCP INRASFF menerima 20 notifikasi downstream yang berasal dari EURASFF, INFOSAN, Food Standards Australia New Zealand, dan Taiwan Food and Drug Administration. Sebanyak 16 notifikasi merupakan informasi kasus terkait keamanan pangan atau pakan ekspor asal Indonesia, sedangkan 4 notifikasi terkait produk asal luar negeri yang diimpor ke Indonesia. Seluruh notifikasi tersebut telah diteruskan ke CCP terkait untuk ditindaklanjuti dengan menelusuri akar masalah dan melakukan tindakan perbaikan agar kasus serupa tidak terulang maupun mencegah produk impor yang tidak memenuhi syarat beredar di masyarakat. Selain 20 notifikasi tersebut, terdapat 2 notifikasi downstream dari EURASFF dan ARASFF yang sedang dimintakan klarifikasinya. Jumlah notifikasi downstream tahun 2020 ini menurun jika dibandingkan dengan tahun 2019. Akan tetapi penurunan jumlah ini belum dapat digunakan sebagai indikator semakin baiknya kualitas keamanan pangan di Indonesia karena penurunan tersebut mungkin juga disebabkan oleh volume ekspor yang mengalami penurunan akibat pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia. Pada tahun 2020 terdapat 1 notifikasi upstream yang disampaikan melalui INRASFF terkait produk jamur enoki asal Korea Selatan yang terkontaminasi Listeria monocytogenes.

Pada tahun 2020, informasi tindak lanjut notifikasi yang disampaikan dari CCP ke NCP mencapai 90% dari 20 notifikasi. Dalam hal ini terjadi peningkatan persentase feedback dari tahun 2019 yang hanya mencapai 64%. Namun, persentase notifikasi yang sudah diselesaikan menurun dari 39% di tahun 2019 menjadi 30% di tahun 2020. Hal ini menunjukkan komunikasi dan kerja sama antar anggota jejaring INRASFF di Indonesia dalam merespon kasus keamanan pangan dan pakan yang semakin meningkat namun masih mengalami kendala dalam penyelesaiannya. Kendala penyelesaian ini antara lain keterbatasan dalam melakukan penelusuran akar penyebab masalah yang disebabkan situasi pandemi Covid-19, yang mengakibatkan petugas harus melakukan penyesuaian dengan kebijakan PSBB.

Dalam rangka penguatan jejaring INRASFF, pada tahun 2020 telah diadakan 3 kali pertemuan INRASFF working group. Perwakilan INRASFF juga terlibat dalam pertemuan tingkat ASEAN terkait penyusunan ASEAN Guidelines on Food and Feed Traceability dan ASEAN Capacity Building on Rapid Response in Food Safety Issues and Crisis, serta pertemuan lintas sektor tingkat nasional untuk membahas rencana nasional tanggap darurat keamanan pangan. Selain itu, telah diadakan 1 kali pertemuan internal BPOM dalam rangka sosialisasi INRASFF ke UPT BPOM sebagai LCCP INRASFF (dirangkaikan dengan sosialisasi World Food Safety Day (WFSD) 2020 dan penanganan dan pelaporan kejadian luar biasa keracunan pangan (KLB KP) di BPOM). Pertemuan tahunan ARASFF NCP ke-8 & ARASFF Steering Committee ke-6 yang sedianya dilaksanakan pada tahun 2020 diundur pelaksanaannya ke Maret 2021 karena kondisi pandemi Covid-19.